Jani tak pernah terpikir bahwasannya ia dapat bertahan sejauh ini. Selepas kepergian Bumi yang mendadak, hidup Jani hancur. Jani tak pernah lepas dari rasa bersalahnya namun, hidup harus terus berjalan jadi meski tertatih-tatih Jani mulai kembali bangkit menjalani hidupnya.
Hari Jani kini tak lagi sebiru saat bersama Bumi, Rasa sepi selalu menggerogoti tubuh Jani setiap hari. Jani ingat betul saat ia datang kesekolah pagi itu. Suara riuh yang berkecamuk, tubuh yang bergetar serta rasa bersalah yang menyelinap di relung hati Jani masih terasa begitu menyakitkan.
Mawar-mawar yang tergeletak di bawah foto Bumi menemani tangis Jani kala itu, tatapan mata yang saling berseliweran menabrak tubuh Jani. Pagi itu Jani tak dapat bersuara meskipun Jani ingin sekali teriak menyerukan isi hatinya. Hanya satu kata yang berhasil Jani ucapkan saat itu sambil menunduk kaku
“Maaf…,” ucap Jani dengan suara rintih
Semua kenangan itu terus berputar di kepala Jani seolah menenggelamkan Jani dalam bayang-bayang Bumi. Jani ingin teriak, Jani ingin terbangun, Jani ingin membangunkan Bumi dan mengatakan apa yang selama ini ia pendam.
Ditengah rintihan sesak Jani, seorang dengan suara parau datang menghampiri Jani
“Ikhlasin Bumi ya, Jan,” ucap Bintang
Bintang adalah teman dekat Bumi. Tubuhnya yang menjulang keatas dan memiliki wajah seram kini semuanya seperti luntur. Tubuh menyeramkan itu mengeluarkan sisi lemahnya di hadapan Jani.
“Ayo Jani, kita ke makam Bumi,” ajak Bintang seraya membangunkan tubuh Jani.
Jani tak banyak bantah, nyaris semua kata hilang dari mulutnya. Jani hanya mengikuti teman Bumi yang mengajaknya untuk melihat Bumi di tempat peristirahatannya.
Selama perjalanan otak Jani seakan ingin menyiksa Jani dalam lamunannya. Putaran memori indah malam itu terus berputar di kepala Jani, tangis Jani mulai pecah. Jani tak kuat menahan sakitnya saat ini.
Sesampainya di pemakaman semuanya telah usai, Bumi sudah dikebumikan. Tumpukan kelopak mawar segar tersebar di atas gundukan tanah merah itu. Tak ada perkataan sedikitpun dari semua orang disana hanya tangisan yang mengiringi kesunyian pagi itu.
Ibu Bumi berusaha terlihat tegar dihadapan teman-teman Bumi meskipun tatapan matanya tak bisa berbohong.
Sampai di sana, Bintang sudah tidak bisa lagi menyembunyikan sedihnya, tangisnya semakin kencang saat Ibu Bumi memeluknya.
“Terima kasih sudah menemani Bumi sedari kecil ya bin, Sering-sering tengokin Ibu biar Ibu gak ngerasa kesepian,” ucap Ibu dengan suara bergetar
Tak ada balasan dari Bintang, hanya pelukannya semakin erat. Jani melihatnya pun tak dapat membendung tangisnya sampai Ibu Bumi tersadar.
“Rinjani,?” tanya Ibu
Jani tersentak mendengar suara Ibu, Jani takut disalahkan meskipun memang benar Jani pantas disalahkan.
Dalam keadaan linglung Ibu mendekat ke arah Jani.
“Rinjani sayang, kehadiran Bumi memang hanya sebentar tapi jangan lupakan Bumi secepat pertemuanmu ya. Kenang Bumi di hatimu tapi jangan juga membebanimu,” kata Ibu dengan tatapan tulus.
“Ibu percaya, pilihan Bumi tidak pernah salah tapi untuk kali ini tolong ikhlaskan Bumi ya sayang,” ucap Ibu sambil menatap dalam mata Jani
Jani terbujur kaku, tak ada satu katapun yang bisa Jani lontarkan. Pelukan Ibu seakan menyadarkan Jani, Jani hanya mengangguk sambil terus menatap batu nisan di depannya.
Satu per satu kerabat serta teman dekat Bumi mulai meninggalkan makam Bumi. Kini hanya tersisa Jani dan Bintang.
Keduanya sama-sama merasakan sakit yang teramat dalam, masih banyak kata “andai saja” di kepala mereka yang membuat mereka belum bisa merelakan Bumi.
Ditengah sunyinya pemakaman tersebut, Bintang bercerita tentang seberapa bangganya ia menjadi teman Bumi. Bumi memang sangat payah dalam menyuarakan isi hati tapi Bumi adalah laki-laki paling perhatian yang pernah Bintang kenal.
“Bumi sayang lo Jan, jadi jangan pernah mikir kepergian dia itu gara-gara lo,” Ucap Bintang sambil memandang langit.
“Hari ini emang berat buat kita tapi hidup harus tetap berjalan kan, pelan-pelan mulai bangkit ya Jan,” kata Bintang dengan suara bergetar.
Sama seperti sebelumnya, Jani hanya mengangguk lemah sewaktu merespon ucapan Bintang.
Hari itu Jani memang merasakan kehilangan yang sangat dalam namun saat itu juga Jani berjanji akan menjadi Rinjani yang selalu Bumi inginkan.
Karna Bumi pernah berkata “Rasa takut sama malu itu harus dilawan, kalau enggak nanti lo gak bisa survive di dunia ini,”
Akhir dari perjalanan Bumi Rinjani memang sudah usai namun Jani akan terus berjalan untuk menikmati setiap takdir yang menghampirinya.
Bumiku memang sudah tiada namun jasanya selalu tersimpan di dalam raga.
-Rinjani setelah kehilanganmu

2 Komentar
Emang boleh se kelabu ini?
BalasHapushehehe
HapusSenang berkelana denganmu