Diantara banyaknya tawa, candamu terekam jelas di otakku. Hari itu, hari pertama kita berinteraksi, setelah mengetahui kalau kita sekelas. 


Awalnya aku ragu, kenapa juga harus aku yang memulai tapi karna kamu penanggung jawabnya, ku putuskan untuk memulai terlebih dahulu. 


Ku kurim satu kalimat pertanyaan tentang tugas itu tanpa harap dibalas secepat itu. Tapi kamu balas bahkan kurang dari satu menit. 


Hatiku senang, melihat responmu melebihi dari apa uang ku expectasikan tapi ada rasa khawatir juga, khawatir apakah ini benar atau sekedar cinta tanpa balasan. 


Berbulan-bulan berlalu, sampai akhirnya kita bertemu. Di kampus, saat pengambilan almet. Pandanganku tidak lepas dari kamu meskipun kamu hanya diam dan tak berbicara langsung padaku. 


Sampai saat pulang, kamu mengirimiku pesan. “Hati-hati pulangnya, ya, bulan,” 


Tak sadar jika secarik kalimat itu bikin hatiku damai dan langsung percaya bahwa kamu yang terbaik. Tapi di dalam hatiku masih ragu, karna melihatmu sangat terburu-buru. Sampai aku akhirnya memutuskan untuk mengakhirinya. 


Perdebatan dimulai, saat aku melayangkan kalimat untuk kita mengakhirinya dan balik menjadi teman saja. Kamu marah, kamu menolak tegas. Aku bingung, satu sisi aku nyaman tapi sisi lain aku takut, takut ditinggalkan dan takut orang-orang mengetahui sumber insecure-ku. 


Tapi kamu meyakinkan, dengan kalimat andalanmu. 


“Gue ga pernah mandang fisik, lo cantik, lo pinter, lo sempurna seperti apa yang gue liat,” 


Lagi-lagi kalimat itu meluluhkanku. Tak pernah aku bertemu laki-laki yang bisa melihatku seperti itu.


Dia, satu-satunya lelaki yang kutemui saat itu, yang bisa melihatku sebagai diriku sendiri tanpa ditutup-tutupi. 


Nyaman, itu yang kurasakan saat itu. Aku ga pernah nyangka bahwa perkenalan asal itu bisa membuat kita jatuh cinta. 


Akhirnya aku dan dia memutuskan untuk menjalin hubungan. Memang tidak mudah, karna aku banyak takutnya tapi dia selalu sabar dan berusaha buat aku secure di dalam hubungan itu. 


Banyak pertengkaran saat kita menjalinnya, menyatukan dua pikiran manusia ditambah umur kita saat itu sedang di fase masa remaja. 


Tapi kita bisa melewatinya, sampai masalah itu datang. Di saat aku mulai merasakan kepercayaan, restu itu tak kunjung datang. 


Beratus-ratus kali aku memohon doa tapi jawabannya selalu tidak. Cinta terhalang restu yang datang dari suku. 


Saat ia bilang bahwa restunya terlalu tinggi aku sempat goyah tapi ia dengan lantang akan berusaha. Rasanya sakit tapi aku yakin kita bisa. 


Akhirnya setelah sekian lama, kita jalani sambil pura-pura lupa. Lupa bahwa kebahagiaan yang kita rajut ini ujungnya harus di akhiri juga.


Tahun ketiga adalah tahun kita, semuanya terasa sempurna. Tidak ada marah, tidak ada kecewa, tidak ada duka. Sampai sepertinya kuta lupa, kalau ada jarak yang tidak akan berakhir bahagia.


Sampai waktunya tiba, kamu memberiku isyarat. 


“Disuruh putus,” katanya


Aku sedih tapi aku sudah menyiapkan. Meskipun masih menyangkal di dalam hati. Jadi aku sakit tapi kamu jauh lebih sakit. 


Perdebatan panjangpun di mulai, ego kita berperang. Sampai akhirnya aku mengalah, mempersilahkan kamu pergi meski hati enggan melepas. 


Akhirnya kamu ucapkan kalimat itu langsung, anehnya aku tidak menangis. Hanya merasa kosong dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengisi di dalam otakku. 


Tubuhku tidak bisa merespon rasa sakitnya cuma mataku menjadi kosong. Separuh hidupku hilang, semangatku pergi entah kemana. 


Sampai aku jadi terus memohon, hingga akhirnya kamu jengah. Kamu mulai memperlihatkan sisi lain kamu. Kamu mulai membuat jarak yang sangat aku benci. 


Dengan jutaan darah yang keluar, akhirnya aku sadar, iya kita sekarang sudah selesai.