Setelah bertahun-tahun berlalu, Jani masih belum merasakan cinta. Hatinya beku, seperti terpahat oleh trauma yang tak kunjung sembuh. Bullying yang ia alami dua tahun lalu telah mencuri senyumnya, meninggalkan wajahnya tanpa ekspresi, bagai tembok datar yang menutup semua perasaan.
Kepercayaan dirinya hancur. Hidup Jani kini hanya untuk mengejar nilai dan karir, seperti robot yang telah diatur. Ia menepati janji kepada Bumi untuk menjalani hidup, tetapi tidak dengan apa yang Bumi ajarkan tentang mencintai diri sendiri.
Hari itu, Jani berjanji bertemu dengan Ibu Bumi di sebuah kafe. Di meja, Ibu sudah menunggu, mengenakan pakaian kuning sambil menyesap teh susu hangat, minuman kesukaan Bumi.
“Ibuuu, sudah lama bu?” tanya Jani, menyembunyikan perasaannya di balik senyum ceria yang dipaksakan.
Senyum Ibu merekah. “Duduk, Jani. Gimana kabar kamu, nak?”
Jani meringis dalam hati, melihat Ibu yang masih terjebak dalam kenangan Bumi. Warna kuning, teh susu hangat, bahkan casing ponsel Bumi masih menjadi bagian dari hidup Ibu. Tapi Jani tetap berpura-pura ceria.
“Baik, Bu. Jani baru saja daftar sidang. Mungkin dua bulan lagi Jani bisa lulus,” jawab Jani.
Mendengar itu, senyum Ibu semakin tulus. “Alhamdulillah. Kabari Ibu ya, kalau sidang dan wisuda sudah dekat.”
“Pasti, Bu. Ibu harus datang ya nanti.”
Setelah obrolan panjang, Ibu pulang lebih dulu. Begitu mobil Ibu menghilang dari pandangan, air mata Jani mulai jatuh. Ia menangis dalam diam, duduk sendirian di tengah keramaian kafe.
Dari sudut ruangan, seorang laki-laki memperhatikan Jani. Namanya Edgar, seorang dokter di klinik universitas Jani. Ia mendekati Jani dengan sepucuk tisu di tangannya.
“Maaf, tapi kayaknya kamu butuh ini,” ujar Edgar pelan.
Jani menoleh, lalu berdiri dengan wajah datarnya. Tanpa berkata apa-apa, ia keluar dari kafe, meninggalkan Edgar yang hanya bisa menatapnya pergi.
Pertemuan mereka bukanlah yang pertama. Setahun lalu, Jani pernah diserempet motor di depan fakultasnya. Edgar yang mengobati luka Jani saat itu, terkejut melihat Jani yang sama sekali tidak menunjukkan emosi, bahkan tidak mengeluh saat rasa sakit menyiksanya.
Namun, kali ini, Edgar melihat sisi lain dari Jani — sisi yang rapuh. Ia merasa bahwa Jani butuh teman, tetapi setiap kali ia mencoba mendekat, Jani selalu menolaknya.
“Maaf ya, Dokter, tapi saya risih kalau dokter terus muncul di hadapan saya,” ucap Jani suatu hari.
Mendengar itu, Edgar memutuskan untuk menjaga jarak. Namun, ia tetap memperhatikan Jani dari jauh.
Hari-hari berlalu, Jani menjalani rutinitas tanpa teman, tanpa dukungan, hanya dirinya sendiri. Hingga tiba hari sidangnya. Ibu menyambut Jani di luar ruang sidang dengan setangkai bunga lily di tangannya.
Senyum Jani terlihat lebih tulus saat berbicara dengan Ibu, tetapi setelah Ibu pergi, Jani kembali menangis dalam diam.
Edgar, yang melihat semuanya dari kejauhan, semakin penasaran. Siapakah perempuan yang membuat Jani berubah saat bersamanya? Mengapa wajah mereka tak mirip jika itu adalah Ibunya? Rambut keriting dan kulit coklat Jani sangat berbeda dari Ibu yang berkulit putih dengan mata sipit.
Sore itu, Edgar mengikuti Jani secara diam-diam. Ia melihat Jani pergi ke pemakaman, membawa bunga lily, selendang, dan selembar kertas. Setelah Jani pergi, Edgar mendekat dan membaca surat yang ditinggalkan Jani:
“Bumiku, Hari ini aku kuat. Aku sudah menyelesaikan janjiku. Aku mendapat gelar, aku menemani Ibu, aku menjadi seperti yang kau inginkan. Tapi Bumiku, aku tidak tahu harus apa lagi. Apakah aku menyusulmu atau terus bertahan di tengah sepinya dunia ini?
Bumiku, semuanya berubah setelah aku kehilanganmu, tapi rasa sesak itu masih ada, menghantuiku hingga detik ini.
Bumiku, apa lagi yang harus kulakukan sekarang?”
Suara dehaman membuat Edgar tersentak. Ia menoleh dan mendapati Jani berdiri di belakangnya. Dengan raut wajah datar dan sisa air mata di pipinya, Jani menarik surat itu dari tangan Edgar.
“Kenapa dibaca?” tanya Jani dingin.
Edgar menatapnya dengan lembut.
“Aku hanya ingin kamu tahu, Jani, bahwa hidup harus terus berlanjut. Kesedihanmu sudah cukup selama ini. Biarkan aku membantu menyembuhkan hatimu, menata semuanya lagi dari awal … tanpa menghapuskan Bumi dari hidupmu.”
Kata-kata Edgar seperti petir yang menyambar hati Jani. “Tanpa menghapuskan Bumi dari hidupmu.”
Itu yang Jani butuhkan. Itu yang selama ini ia ingin dengar.
Air mata Jani kembali jatuh, tetapi kali ini ia tidak merasa sendirian. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada harapan. Harapan untuk bangkit, menata kembali hatinya, tanpa harus melupakan kenangan indahnya bersama Bumi.
Jani tahu, perjalanan ini tidak akan mudah. Tetapi ia juga tahu, ia tidak perlu menjalaninya sendiri lagi.
0 Komentar
Senang berkelana denganmu