Photo by M. on Unsplash 

Tentang bumi dan Jani yang menjadi abadi di sebuah ilusi. 

Jani tak pernah menyangka, kehadirannya ternyata membawa dampak sebesar ini. Jani yang selalu malu dalam hal berinteraksi ternyata bisa menjadi sosok pemberani sekarang. Jika bisa memutar waktu, Jani akan berterima kasih kepadanya karena berkat dia, Jani bisa menjadi Rinjani seperti sekarang. 

Empat tahun yang lalu, sama seperti siswa lainnya Jani mulai beraktivitas di SMA Indikarya. Menjadi siswa disini bukan pilihan Jani, melainkan pilihan sang kakak karena Jani tertolak di SMA Negeri Favorite di wilayahnya. Siapa sangka, berkat pilihan sang kakak Jani bisa bertemu dengannya dan memulai pertualangan seru selama tiga tahun sekolah. 

Awalnya, Jani adalah perempuan pendiam yang tidak suka bersosialisasi dengan banyak orang namun, setelah bertemu dengan salah satu siswa dia mulai percaya diri dan mulai berani untuk membuka dirinya kepada banyak orang. 

Namanya Bumi, kakak kelas 11 IPA 5. Dia adalah salah satu panitia MPLS di tempat Jani sekolah. Sifatnya ceria, cuek tapi diem-diem perhatian. Jika diperhatikan memang seperti kulkas berjalan, namun setelah kenal lebih jauh rasa hangat itu mulai terasa bahkan sampai aku merasa nyaman didekatnya. 

Aku hanya bisa mengaguminya dari jauh, karena menurutku dapat melihatnya sesekali itu sudah cukup. Sampai suatu hari, aku melakukan kesalahan, kesalahan yang sama sekali tidak pernah aku sesali. 

Waktu itu, aku lupa membawa kain pel yang disuruh oleh panitia. Setelah dikumpulkan bersama siswa lainnya yang tidak lengkap, kami diawasi oleh masing-masing satu panitia penanggung jawab. Awalnya aku santai saja sampai akhirnya tertegun mendengar suaranya 

“Kenapa gak dibawa kain pelnya? Ketinggalan ya?” ujarnya dengan nada meledek

Dalam hatiku, aku sangat hafal dengan suara ini, suara yang selalu ingin aku dengar setiap harinya. Jantungku berdegup kencang tapi aku harus bisa menahan agar tetap bisa fokus.

“Iya kak, maaf lupa ga kebawa” ujarku dengan nada datar

Hanya suara tawa yang ku dengar setelahnya. Habis itu, kami dibawa ke ruangan dan diminta untuk memakai kalung kardus dengan tulisan “sanksi satu”. 

Setelah itu, ku pikir semuanya sudah selesai namun ternyata tidak, seusai pulang sekolah kami masih harus memenuhi beberapa instruksi yang diberikan oleh kakak penanggung jawab akibat keteledoranku tidak membawa kain pel. 

Lagi-lagi aku harus bertemu dengan kak Bumi. Saat itu aku memang kesal namun karena murni kesalahanku jadi aku ikuti saja apa yang diperintah. 

Sore itu, Kak Bumi memintaku untuk menyebutkan visi misi SMA Indikarya, aku sama sekali tidak keberatan, karena aku hafal semua visi misinya tapi yang membuatku kesal adalah aku harus menyebutkannya di depan banyak orang. Nyaliku menciut seketika. 

“Cepetan, tadi katanya gampang” ujarnya

Dengan suara gugup dan muka panik ku, aku berusaha untuk menyelesaikan tantangannya itu. Tanganku sampai dingin, setelah selesai dia hanya tersenyum sambil mengangkat jempolnya

“Lulus, gampangkan?” katanya seraya mendekatiku dan duduk didepanku

Aku hanya bisa tersenyum kecil sambil terus misuh didalam hati

“Rasa takut sama malu itu harus dilawan, kalau enggak nanti lo ga bisa survive di dunia ini” katanya lagi, kali ini dengan muka serius. 

“Iya kak” hanya itu responku padanya saat itu

“Rinjani, Jangan takut! kalau takut panggil aja nama gue, nanti gue bantu” ucapnya sambil serius

“Udah boleh pulang, besok jangan kelupaan lagi barang bawaannya” ucapnya

“Iya kak, permisi”

Aku memang tidak bisa mengekspresikan banyak hal, padahal dalam hatiku sangat jelas sekali kalau aku salah tingkah setengah mati. Ucapannya itu adalah awal aku mulai bisa berani bersosialisasi dengan semua orang. 

Setelah itu aku menjalankan masa MPLS ku seperti biasa sampai akhir MPLS selesai. Sejak saat itu, aku sudah tidak bisa lagi melihat sering-sering wajahnya di ruang kelas yang sama. 

Hari-hariku selanjutnya sama seperti biasa, masuk kelas, belajar dan pulang. Sampai akhirnya aku melihat dia masuk kedalam ruang kelasku. Rupanya hari itu adalah orasi dia sebagai calon ketua osis. 

Melihatnya memaparkan visi misi serta program kerja di depan kelas, aku semakin berambisi ingin menjadi seperti dia. 

Keren, hanya kata itu yang bisa aku ucapkan didalam hati. 

Kami sempat eye contact beberapa detik saat dia berbicara, yang pastinya raut wajahku sangat biasa saja padahal dalam hati sudah berbunga-bunga. 

Acara orasi itu sudah selesai saat bel istirahat berbunyi, kak bumi dan teman-teman lainnya mulai meninggalkan kelasku. Aku dan temanku pun keluar kelas untuk membeli makanan di kantin sekolah. 

Saat selesai membeli makanan, aku dipanggil oleh Kak Bumi. Kak Bumi izin kepada temanku untuk meminjam aku sebentar, pinjam memangnya aku barang, batinku dalam hati. 
“Jani, daftar osis dong nanti” ucapnya

“Gamau ah, capek” 

“Ini penting tau, buat mengasah publik speaking sambil belajar berorganisasi juga” ucapnya dengan semangat

“Ga dulu deh kak, udah ya, laper mau makan” ucapku 

Kak Bumi hanya terkekeh mendengar jawabanku, lalu membiarkanku pergi kembali ke kelas. 

Sebetulnya sebelum Kak Bumi meminta pun aku mau daftar jadi anggota osis, namun gengsi saja aku mengiyakan ajakannya. 

Saat itu hampir setiap hari kak Bumi selalu melontarkan pertanyaan yang sama dan mengajakku untuk join anggota osis sampai akhirnya aku luluh dan mengiyakan ajakannya. 

Tiga hari menuju pemilihan raya, Kak Bumi berbicara padaku

“Jani, kalau nanti gue ga kepilih jadi ketos, lo kecewa gak?” tanyanya

“Biasa aja tuh, kenapa?”

“Ya gapapa sih, cuma nanya aja” katanya sambil ketawa, tapi aku yakin kalau dia sebetulnya sedang gugup.

It's okay kak, jadi ketos atau engga juga kan lo tetep jadi Bumi 11 IPA 5” 

Senyumnya merekah setelahku mengatakan itu, dia cuma mengacak rambutku sambil pergi begitu saja. 

Tiga hari berlalu dan ternyata kak Bumi gagal menjadi ketua osis. Wajahnya terlihat biasa saja tidak ada raut kecewa didalam mukanya. 

Tidak tahu angin apa yang membuatku berani berjalan ke arahnya. 

“Kak Bumi” panggilku

Kak Bumi yang mendengarnya langsung mendekat dan membawaku ke tempat duduk satunya, dia tahu kalau aku tidak akan berani berbicara di depan teman-temannya

“Tumben, kenapa?” tanyanya dengan sedikit senyum dibibirnya

“Engga, ituu tadi manggil doang” ucapku dengan nada gugup

Sejujurnya aku juga tidak tahu mau berbicara apa, kakiku hanya mengarah kepadanya tanpa tahu apa yang ingin ku lakukan

Kak Bumi hanya tertawa mendengarnya

“Tetep join osis ya, gue tunggu nanti” ucapnya sambil pergi begitu saja

Hari itu pipiku sangat merah menahan malu. Aku mulai melangkah pergi ke kelasku tapi sialnya aku harus melewati gerombolan kakak kelas temannya Kak Bumi. 

Singkat ceritanya, aku keterima menjadi anggota osis dan kak Bumi menjabat sebagai Sekretaris. Hari-hariku semakin padat karena akan ada event tahunan sekolah. Kebetulan saat itu aku menjadi anggota divisi acara sehingga semakin padat jadwalku di sekolah. 

Hari ini adalah rapat terakhir sebelum acara dimulai, panitia perempuan dibolehkan untuk beristirahat duluan sebelum besok pagi acaranya dimulai. 

Paginya acara berjalan dengan lancar sampai selesai, semua panitia berkumpul untuk mengadakan rapat evaluasi. Setelah selesai dan pembubaran panitia, kami semua dibolehkan untuk pulang kerumah. 

Selama proses rangkaian acara, aku dan kak Bumi tidak berbicara sama sekali ketemu pun jarang. Tapi malam itu, kak Bumi menawarkan tumpangan untuk pulang. Kami pulang berdua, padahal jarak rumahnya dengan rumahku sangat jauh, ah senangnya kalau mengingat masa itu. 

Di tengah perjalanan ka Bumi berbicara banyak hal, katanya biar aku gak ngantuk selama perjalanan karena udara yang dingin sehabis hujan. Tak lama sampailah kami di depan rumahku, sebelum dia pamit pulang dia mengucapkan satu kalimat untukku

“Jani, kamu keren sekali sudah bisa melawan ketakutanmu. Keren deh udah berani tampil dan percaya diri, apalagi waktu rapat kemarin, keren banget bisa dengan lantang nyampein rundown acaranya” ucapnya dengan nada bangga

Aku yang mendengarnya pun merasa senang, ternyata aku sudah sejauh ini ya. Karena waktu sudah terlalu malam, aku menyuruhnya untuk pulang. 

“Makasih ya kak, untuk semua ilmu dan tabengannya hari ini. Hati-hati dijalan!” ucapku

Kak Bumi pun melajukan motornya untuk kembali kerumah

Pagi harinya, adalah pagi hari yang sama sekali tidak pernah terbayangkan olehku. Sesampainya aku di sekolah, terdapat banyak bunga mawar merah di halaman sekolah, aku menyusurinya sampai melihat satu foto yang membuatku nyaris kehilangan kesadaran

“MENGENANG BUMI PRAKASA” 

Hatiku hancur, aku harap ini adalah mimpi. Mimpi buruk yang ingin sekali aku hapus dan bangun dari tempat tidur namun, sayangnya ini adalah kenyataan. Kenyataan pahit yang harus ku terima. 

Kak Bumi meninggal setelah mengantarku kembali ke rumah karena kecelakaan tunggal. Kalau aku tahu akan jadi seperti itu, aku tidak mau mengiyakan ajakannya untuk pulang bareng, aku tidak mau menyuruhnya pulang malam itu. 

Kata-kata kak Bumi kemarin adalah kalimat terakhir yang akan selalu membekas di ingatanku sampai kapanpun. Seandainya aku bisa mengulang waktu, aku akan dengan bangga bilang kalau kamu adalah salah satu orang paling berpengaruh di hidupku. Terima kasih ya Bumi, kamu sudah hadir dan memberi banyak pelajaran berharga dihidupku meskipun singkat namun kehadiranmu sangat berarti dihidupku, doaku selalu menyertaimu.  

-Untuk Bumi yang selalu mengitari Jani.